Fakultas Ilmu Kesehatan
Prodi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam As-syafi’iyah
2014
Andhini
Putri (2720110008)
PROGRAM
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR ( P2M)
BAB
I
PENDAHULUAN
Di berbagai negara
masalah penyakit menular dan kualitas lingkungan yang berdampak terhadap
kesehatan masih menjadi isu sentral yang ditangani oleh pemerintah bersama
masyarakat sebagai bagian dari misi Peningkatan Kesejahteraan Rakyatnya. Faktor
lingkungan dan perilaku masih menjadi risiko utama dalam penularan dan
penyebaran penyakit menular, baik karena kualitas lingkungan, masalah sarana
sanitasi dasar maupun akibat pencemaran lingkungan. Sehingga insidens dan
prevalensi penyakit menular yang berbasis lingkungan di Indonesia relatif masih
sangat tinggi.
Pembangunan kesehatan
merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Pembangunan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat berperan penting
dalam meningkatkan mutu dan daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
Untuk mewujudkan
tujuan pembangunan kesehatan tersebut ditetapkanlah Visi Indonesia Sehat 2015
yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia dengan ditandai
oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan dengan perilaku yang
sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata diseluruh wilayah Negara kesatuan Republik
Indonesia. Sejalan dengan tujuan tersebut diselenggarakan upaya pembangunan
kesehatan yang berkesinambungan, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota maupun oleh masyarakat termasuk swasta.
Menurut Undang-undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyatakan bahwa ‘Kesehatan merupakan
hak asasi setiap orang dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita – cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila
dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, maka tuntutan untuk
mendapatkan pelayanan yang bermutu dan optimal menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat’.
Perubahan Paradigma
Kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan lebih diprioritaskan pada upaya
pencegahan dan promosi dengan tanpa meninggalkan kegiatan kuratif dan
rehabilitatif, telah mendorong upaya dari dinas kesehatan umumnya dan dalam
bidang penyehatan lingkungan permukiman serta tempat – tempat umum dan industri
pada khususnya untuk lebih menggali kemampuan dan kemauan masyarakat untuk
dapat meningkatkan dan memecahkan permasalahan kesehatannya sendiri.
Keadaan kesehatan
lingkungan di masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat
perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti:
Mobilitas dan Peningkatan jumlah penduduk, penyediaan air bersih, Pemanfaatan
Jamban, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah, penggunaan pestisida,
masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, polusi
udara,air dan tanah dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan
Penyakit Menular.
Puskesmas merupakan
kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang
bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh
masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat menggunakan hasil perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat ditanggung
oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya tersebut diselenggarakan dengan
menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat
kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan
(Depkes, RI 2004).
Salah satu fungsi
puskesmas adalah memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan yang diberikan
puskesmas meliputi pelayanan pengobatan, upaya pencegahan, peningkatan
kesehatan dan pemulihan kesehatan (Depkes RI, 2004).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Program
Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
Berkaitan dengan penanggulangan
penyakit menular, maka Dinas Kesehatan bertugas mengembangkan segala potensi
yang ada untuk menjalin kemitraan dan kerja sama semua pihak yang terkait serta
memfasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dalam pelaksanaan manajemen
program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta
mengupayakan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
Selain itu dalam mengatasi hambatan
yang dihadapi dan dengan menyesuaikan tugas pokok dan fungsi serta uraian
kegiatan program P2M, maka strategi operasional yang dilakukan dalam
penanggulangan pemberantasan penyakit menular diantaranya melalui :
1.
Pemantapan kelembagaan unit pelayanan
kesehatan baik pemerintah maupun swasta dalam penanggulangan penyakit menular
dengan strategi DOTS;
2.
Peningkatan mutu pelayanan di semua
unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta;
3.
Penggalangan kemitraan dengan
organisasi profesi, lintas sektoral, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
institusi pendidikan, dan lain-lain;
4.
Pemberdayaan masyarakat dalam rangka
mendorong kemandiriannya untuk mengatasi masalah TBC;
5.
Penelitian dan pengembangan
melalui penelitian lapangan atau kerja sama dengan institusi pendidikan, LSM,
organisasi profesi dan lain-lain dalam upaya penanggulangan penyakit menular.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan
program P2M di Dinas Kesehatan Propinsi adalah :
1.
Meningkatkan upaya penemuan penderita
di RS;
2.
Meningkatkan peran PKD dalam penemuan
tersangka penderita;
3.
Meningkatkan upaya penemuan penderita
melalui pesantren;
4.
Meningkatkan penemuan penderita di
tempat kerja;
5.
Meningkatkan peran Lapas dalam penemuan
penderita; Meningkatkan peran serta PKK, Muhammadiyah/ Aisyiah/ Fatayat/ NU dan
6.
Meningkatkan petugas PTO dan pengelola
Program TBC.
B.
Seksi
Yang Terkait Dengan Program P2M
Salah satu misi
program penanggulangan penyakit menular dan merupakan tugas pokok dan
fungsi pelaksana program P2M adalah meningkatkan kemitraan dan melakukan
koordinasi lintas program maupun lintas sektor yang terkait dengan program P2M.
Seksi Pemberantasan
dan Pencegahan Penyakit Menular (Seksi P2M) adalah yang bertanggung jawab dan
mempunyai tugas menyediakan bahan rencana dan program kerja, pelaksanaan,
pelayanan, fasilitasi teknis, pemantauan dan evaluasi, pelaporan bidang
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Pemutusan Mata Rantai
Penularan melalui Pemberantasan Vektor.10 Bidang Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit Menular yang dilaksanakan oleh seksi P2M meliputi beberapa program
yaitu program HIV/ AIDS, TBC, Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD),
Kusta, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Diare, dan Kecacingan (filariasis).
Pada struktur
organisasi Dinas Kesehatan, lintas program yang terkait dengan program P2M
adalah :
Seksi Penyehatan
Lingkungan (PL)
-
Seksi Upaya Kesehatan Khusus dan
Penunjang Medik (UKK)
-
Seksi Upaya Kesehatan Rujukan (UKR)
-
Seksi Pengembangan Promosi Kesehatan
(Promkes)
-
Seksi Pengembangan Kemitraan dan
Pemberdayaan Masyarakat (PKPM), dan
-
Seksi Kesehatan Kerja dan Kesehatan
Institusi (K3I).
Selain itu program P2M juga terkait
dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan.
Berikut Uraian Tugas
dan Rincian Kegiatan Program P2M seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular
a.
Uraian Tugas :
-
Menyediakan bahan rencana dan program
Kerja bidang P2M
-
Melaksanakan Koordinasi pelaksanaan dan
pelayanan bidang P2M
-
Melaksanakan fasilitasi teknis bidang P2M
-
Melaksanakan pemantauan dan evaluasi
bidang P2M
-
Menyediakan bahan pelaporan bidang P2M
b.
Rincian Kegiatan :
-
Menghimpun, mengolah dan menganalisa
data program salah satu jenis penyakit menular dari Kabupaten/ Kota, RS, dan
BP4
-
Menghimpun, mengolah dan menganalisa
serta merencanakan kebutuhan Obat-obatan, Membuat perencanaan kegiatan program
tahunan
-
Menyiapakan bahan rencana renstra
program P2M
-
Melakukan koordinasi dengan Labkesda/
Lintas program/ Lintas sektor/ LSM yang terkait dengan program P2M
-
Menyelenggarakan pertemuan dengan
lintas program / Lintas Sektor dan LSM untuk mendukung program P2M
-
Melaksanakan fasilitasi teknis program
P2M ke puskesmas, kabupaten/ kota, BP4 dan RS.
-
Monitoring & evaluasi (monev)
pelaksanaan program P2M di daerah
-
Menyelenggarakan pertemuan monev dengan
kabupaten/ kota
-
Monev hasil pertemuan dengan lintas
sektor/ lintas program
-
Melaksanakan kajian pencapaian program
P2M
-
Membuat laporan kegiatan program
C.
Epidemiologi
Adalah kegiatan pengamatan
secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah
kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau
masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan
secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan
penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan
D.
Surveilans
Epidemiologi
Merupakan kegiatan
pengamatan terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta faktor determinannya.
Penyakit dapat dilihat dari perubahan sifat penyakit atau perubahan jumlah
orang yang menderita sakit. Sakit dapat berarti kondisi tanpa gejala tetapi
telah terpapar oleh kuman atau agen lain, misalnya orang terpapar HIV, terpapar
logam berat, radiasi dsb. Sementara masalah kesehatan adalah masalah yang
berhubungan dengan program kesehatan lain, misalnya Kesehatan Ibu dan Anak,
status gizi, dsb. Faktor determinan adalah kondisi yang mempengaruhi resiko
terjadinya penyakit atau masalah kesehatan.
Merupakan kegiatannya
yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus. Sistematis melalui proses
pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi sesuai
dengan kaidah-kaidah tertentu, sementara terus menerus menunjukkan bahwa
kegiatan surveilans epidemiologi dilakukan setiap saat sehingga program atau
unit yang mendapat dukungan surveilans epidemiologi mendapat informasi
epidemiologi secara terus menerus juga.
Kegunaan Surveilans
Epidemiologi
Pada awalnya surveilans epidemiologi
banyak dimanfaatkan pada upaya pemberantasan penyakit menular, tetapi pada saat
ini surveilans mutlak diperlukan pada setiap upaya kesehatan masyarakat, baik
upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, maupun terhadap upaya
kesehatan lainnya.
Untuk mengukur kinerja upaya pelayanan
pengobatan juga membutuhkan dukungan surveilans epidemiologi.
Pada umumnya surveilans epidemiologi
menghasilkan informasi epidemiologi yang akan dimanfaatkan dalam :
1.
Merumuskan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan evaluasi
program pemberantasan penyakit serta program peningkatan derajat kesehatan
masyarakat, baik pada upaya pemberantasan penyakit menular, penyakit tidak
menular, kesehatan lingkungan, perilaku kesehatan dan program kesehatan
lainnya.
2.
Melaksanakan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit dan keracunan
serta bencana.
3.
Merencanakan studi epidemiologi, penelitian dan pengembangan program Surveilans
epidemiologi juga dimanfaatkan di rumah sakit, misalnya surveilans epidemiologi
infeksi nosokomial, perencanaan di rumah sakit dsb.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
kegiatan surveilans epidemiologi dapat diarahkan pada tujuan-tujuan yang lebih
khusus, antara lain :
1.
Untuk menentukan kelompok atau golongan
populasi yang mempunyai resiko terbesar untuk terserang penyakit, baik
berdasarkan umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain–lain
2.
Untuk menentukan jenis dari agent
(penyebab) penyakit dan karakteristiknya
3.
Untuk menentukan reservoir dari infeksi
4.
Untuk memastikan keadaan–keadaan yang menyebabkan bisa berlangsungnya
transmisi penyakit.
5. Untuk
mencatat kejadian penyakit secara keseluruhan
6.
Memastikan sifat dasar dari wabah tersebut, sumber dan cara penularannya,
distribusinya, dsb.
Program Pencegahan
Penyakit Menular dilaksanakan melalui :
1.
Pelayanan imunisasi
bagi Bayi
2.
Pelayanan imunisasi
bagi anak sekolah
3.
Pelayanan imunisasi
bagi ibu hamil
4.
Pelayanan
Program Pemberantasan
Penyakit Menular Langsung dilaksanakan melalui:
1.
Pemberantasan
penyakit TB Paru
2.
Pemberantasan
penyakit Kusta
3.
Pemberantasan
penyakit ISPA
4.
Pemberantasan
penyakit HIV/AIDS
5.
Pemberantasan
penyakit diare
6.
Pemberantasan penyakit
Program Pemberantasan Penyakit Menular
Bersumber Dari Binatang dilaksanakan melalui :
1.
Pemberantasan
penyakit malaria
2.
Pemberantasan
penyakit Arbovirosis
3.
Pemberantasan
penyakit Filariasis.
Program
Pengamatan Penyakit Menular
dilaksanakan melalui penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB :
1.
Program Upaya
Kesehatan Ibu dan Anak serta KB dilaksanakan melalui Pelayanan
kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir
2.
Pelayanan kesehatan
Bayi dan Anak Pra Sekolah
3.
Pelayanan Kesehatan
Anak Usia Sekolah dan Remaja
4.
Pelayanan Kesehatan
Usia Subur
5.
Pelacakan kasus BBLR
di Kampung-Kampung
Program Upaya
Perbaikan Gizi Masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan :
1.
Pemantauan
pertumbuhan Balita
2.
Pemberian suplemen
gizi
3.
Pelayanan gizi buruk
4.
Swiping vitamin A
5.
Swiping kualitas
garam beryodium
6.
Perawatan/pengobatan
balita gizi buruk
7.
Pemberian makanan
tambahan ( PMT)
8.
Pemantauan status
gizi lebih .
Program Upaya
Kesehatan Lingkungan dilaksanakan melalui kegiatan :
1.
Lingkungan fisik
2.
Pelayanan Hygiene
sanitasi di tempat-tempat umum
3.
Pengambilan dan
pemeriksaan sampel air
4.
Perbaikan kualitas
air
Pemberantasan Vector
dilaksanakan melalui kegiatan :
1.
Penyemprotan
rumah/bangunan
2.
Penyemprotan rumah/malaria.
Program Upaya Pelayanan Kesehatan Usia
Lanjut dilaksanakan melalui kegiatan Pemantauan pelaksanaan Pos Bindu.
Program Pengawasan
Makanan dan Minuman dilaksanakan melalui kegiatan :
1.
Pendataan Industri
rumah tangga pangan
2.
Audit dan sertifikasi
IRT
3.
Pengambilan dan
pengiriman sampel makanan
4.
Sweeping dan
Pemusnahan makanan dan minuman
5.
Penyuluhan keamanan
pangan
6.
Surveilance keracunan
pangan.
Pengawasan
Obat-Obatan dilaksanakan melalui kegiatan :
1.
Pendataan sarana
pengobatan dan pendistribusian obat-obatan
2.
Pemeriksaan peredaran
obat keras
3.
Pengawasan distribusi
kosmetik dan salon kecantikan
4.
Pengawasan
obat-obatan interen
5.
Pengawasan dan
pembinaan pengobatan tradisional.
BAB
III
KONSEP
PENCEGAHAN
Leavel and Clark dalam buku yang berjudul:
Preventive Medicine for the Doctor in
his Community, menyatakan ada 2 fase dalam proses pencegahan penyakit yaitu:
- Fase sebelum sakit = prae patogenesis phase yaitu
: PRIMARY PREVENTION
- Fase selama proses sakit =
patogenesis phase yaitu : SECONDARY PREVENTION dan TERTIARY PREVENTION
Kedua fase diatas merupakan fase
yang yang terdapat dalam riwayat alamiah penyakit. Riwayat
alamiah penyakit adalah perkembangan penyakit itu tanpa campur tangan medis
atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara
alamiah, fase-fase tersebut adalah :
1.
Prepatogenesis
Tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamudengan
bibit penyakit,tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh manusia,dalam arti
bibit penyakit berada diluar tubuh manusia dan belum massuk ke dalam tubuh.pada
keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-tanda penyakit dan daya tahan tubuh
penjamu masih kuat dan dapat menolak penyakit.keadaan ini disebut sehat.
2.
Tahap Inkubasi (sudah masuk
patogenesis)
Pada tahap ini bibit penyakit masuk ke tubuh
penjamu,tetapi gejala-gejala penyakit belum nampak.tiap-tiap penyakit mempunyai
masa inkubasi yang berbeda.
3.
Tahap Penyakit Dini
Tahap ini mulai dihitung dari munculnya
gejala-gejala penyakit.pada tahap ini penjamu sudah jatuh sakit tetapi masih
ringan dan masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari.bila penyakit segera
diobati,mungkin bisa sembuh,tetapi jika tidak bisa bertambah parah.hal ini
tergantung daya tahan tubuh manusia itu sendiri,seperti gizi,istirahat dan
perawatan yang baik di rumah.
4. Tahap
Penyakit Lanjut
Bila penyait penjamu bertambah parah, karena tidak
diobati atau tidak memperhatikan
anjuran-anjuran yang diberikan pada penyakit dini maka penyakit masuk pada
tahap lanjut. Penjamu terlihat tak berdaya dan tak sanggup lagi melakukan
aktivitas. Ppada tahap ini penjamu memerlukan perawatan dan pengobatan
intensif.
5.
Tahap penyakit akhir
Tahap akhir dibagi menjadi 5 keadaan:
a.sembuh
sempurna yaitu bentuk dan fungsi tubuh penjamu kembali berfungsi seperti
keadaan sebelumnya
b. sembuh
tapi cacat:penyakit penjamu berakhir/bebas dari penyakit,tapi kesembuhannya tak
sempurna,karena terjadi cacat (fisik,mental maupun sosial) dan sangat
tergantung dari serangan penyakit terhadap organ-organ tubuh penjamu
c.carier
: gejala penyakit tak tampak lagi,tetapi dalam tubuh penjamu masih terdapat
bibit penyakit. yang pada suatu saat bila daya tahan tubuh penjamu menurun akan
dapat kambuh kembali.keadaan ini tak hanya membahayakan penjamu sendiri, tetapi
dapat berbahaya terhadap orang lain/masyarakat,karena dapat menjadi sumber
penularan penyakit.
d.kronis
: pada tahap ini gejala-gejala penyakit tidak berubah,pada keadaan ini penjamu
masih tetap berada dalam keadaan sakit.
TINGKATAN
PENCEGAHAN PENYAKIT
·
Upaya pencegahan dapat dilakukan
sesuai dengan perkembangan patologis penyakit atau dengan kata lain sesuai
dengan riwayat alamiah penyakit tersebut.
·
Ada 3 tingkat utama pencegahan :
1. Pencegahan tingkat pertama (Primary
Prevention)
2. Pencegahan
tingkat kedua (Secondary Prevention)
3. Pencegahan
tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan 1 pada tahap prepatogenesis dari riwayat
alamiah penyakit. Tingkat pencegahan 2 dan 3 pada tahap patogenesis penyakit .
1. Pencegahan tingkat pertama (Primer prevention)
Adalah Upaya pencegahan yg dilakukan saat proses
penyakit belum mulai (pd periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak
terjadi proses penyakit
Tujuan: mengurangi insiden penyakit dengan cara
mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya
Upaya yang dilakukan adalah
untuk memutus mata rantai infeksi “agent – host - environment” Terdiri
dari:
a. Health
promotion (promosi kesehatan)
b. Specific
protection (perlindungan khusus)
Kegiatan yang dilakukan melalui upaya tersebut
adalah :
A. Health
promotion (promosi kesehatan)
Pendidikan
kesehatan, penyuluhan
Gizi yang
cukup sesuai dengan perkembangan
Penyediaan perumahan yg sehat
Rekreasi yg cukup
Pekerjaan yg sesuai
Konseling
perkawinan
Genetika
Pemeriksaan
kesehatan berkala
B.
Specific protection (perlindungan khusus )
- Imunisasi
- Kebersihan perorangan
- Sanitasi lingkungan
- Perlindungan thdp kecelakaan akibat kerja
- Penggunaan gizi tertentu
- Perlindungan terhadap zat
yang dapat menimbulkan kanker
- Menghindari zat-zat
alergenik
2.
Pencegahan tingkat kedua( Sekunder prevention)
Adalah Upaya pencegahan yg
dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung namun belum timbul
tanda/gejala sakit (patogenesis awal) dengan tujuan proses penyakit tidak
berlanjut
Tujuan:
menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi. Terdiri dari
:
A. deteksi dini
B.
pemberian pengobatan (yang tepat)
Kegiatan yang dilakukan
dalam upaya terebut adalah
Deteksi dini
§ Penemuan
kasus (individu atau masal)
§ Skrining
§ Pemeriksaan khusus dengan tujuan
§
Menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut
§ Mencegah
penyebaran penyakit menular
§ Mencegah
komplikasi dan akibat lanjutan
§ Memperpendek
masa ketidakmampuan
Pemberian
pengobatan
›
Pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses
penyakit
›
mencegah komplikasi dan sekuele yg lebih parah
› Penyediaan
fasilitas khusus untuk
membatasi ketidakmampuan dan mencegah kematian
Contoh
- PMS à kultur rutin bakteriologis
utk infeksi asimtomatis pd kelompok resti
- Sifilis à tes serologis utk infeksi preklinis pd kelompok risti
- DBD à pemeriksaaan rumple leed
3.
Pencegahan tingkat ketiga ( tertiary prevention)
Adalah Pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit
sudah lanjut (akhir periode patogenesis) dengan tujuan untuk mencegah cacad dan
mengembalikan penderita ke status sehat
Tujuan:
menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita
untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. Terdiri
dari:
Disability
limitation
Rehabilitation
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut adalah
:
Disability
limitation
- Penyempurnaan dan
intensifikasi pengobatan lanjutan agar tidak terjadi komplikasi.
- Pencegahan terhadap komplikasi maupun cacat
setelah sembuh.
- Perbaikan fasilitas
kesehatan sebagai penunjang untuk pengobatan dan perawatan yang lebih intensif.
- Mengusahakan pengurangan
beban beban non medis ( sosial ) pada penderita untuk memungkinkan meneruskan
pengobatan dan perawatannya.
Rehabilitasi
›
Penempatan secara selektif
›
Mempekerjakan sepenuh mungkin
›
penyediaan fasilitas untuk pelatihan hingga fungsi
tubuh dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
›
Pendidikan pada masyarakat dan industriawan agar
menggunakan mereka yang telah direhabilitasi
›
Penyuluhan dan usaha usaha
kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh.
›
Peningkatan terapi kerja
untuk memungkinkan pengrmbangan kehidupan sosial setelah ia sembuh.
›
Mengusahakan suatu
perkampungan rehabilitasi sosial.
›
Penyadaran masyarakat untuk
menerima mereka dalam fase rehabilitasi.
›
Mengembangkan
lembaga-lembaga rehabilitasi
Contoh
Fraktura & cedera à memasang rel pegangan tangan (handrails) di rumah orang
yg mudah jatuh
Ulserasi kulit kronis à penyediaan matras khusus utk penyandang cacat
berat
PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR PADA
PELAYANAN PRIMER/PUSKESMAS
Pencegahan penyakit menular di tingkat pelayanan
primer/puskesmas dilakukan melalui program :
- P2 TBC
- P2 IMS HIV/AIDS
- P2 Kusta
- P2 ISPA
- P2 Malaria
- P2 Flu Burung
- P2 DBD
- P2 DIARE
- Pencegahan Penyakit / Imunisasi
- Surveilens Epidemiologi
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Menurut Undang-undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak
asasi setiap orang dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita – cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila
dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, maka tuntutan untuk
mendapatkan pelayanan yang bermutu dan optimal menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Epidemiologi Adalah
kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau
masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan,
pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara
program kesehatan
Penyakit menular yang
juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah
penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau
parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma
benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular
kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC, Infulenza dll),
tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis,
Typhoid/Types dll), Jarum suntik dan transfusi darah (HIV Aids, Hepatitis dll).
B. SARAN
Program pemberantasan penyakit menular
harus lebih dititik beratkan khususnya di daerah-daerah yang masih ketinggalan
akan arus informasi, transportasi dan komunikasi. Selain penambahan
jumlah tenaga kesehatan serta fasilitas-fasilitas lainnya. Peran serta
masyarakat akan lebih baik dalam mempercepat program pemberantasan penyakit
menular terlaksana.
DAFTAR
PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pemberantasan
Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. (1993). Bimbingan
Keterampilan Dalam Tatalaksana Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pada
Anak. Jakarta.
Direktorat Jenderal Pemberantasan
Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. (1996).
Departemen Kesehatan, Pedoman Penerapan DOTS di Rumah Sakit,
2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar