STRES
DAN ADAPTASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Manusia harus
selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia yang selalu berubah-ubah.
Manusia sebagaimana ia ada pada suatu ruang dan waktu, merupakan hasil
interaksi antara jasmani, rohani, dan lingkungan. Ketiga unsure tersebut saling
mempengaruhi satu dengan yang lain. Dalam segala masalah, kita harus
mempertimbangkan ketiganya sebagai suatu keseluruhan (holistic) sehingga
manusia disebut makhluk somato-psiko-sosial.
Oleh karena itu,
apabila terjadi gangguan pada jasmani, akan menimbulkan usaha penyesuaian
secara fisik atau somatic. Demikian pula apabila terjadi gangguan pada unsure
rohani, akan menimbulkan usaha penyesuaian secara psikologis. Usaha yang
dilakukan organism untuk mengatasi stress agar terjadi keseimbangan yang
terus-menerus dalam batas tertentu dan tetap dapat mempertahankan hidup
dinamakan homeostasis.
Sumber gangguan
jasmani (somatic) maupun psikologis adalah stress. Apabila kita mampu mengatasi
keadaan stress, perilaku kita cenderung berorientasi pada tugas (task
oriented), yang intinya untuk menghadapi tuntutan keadaan. Namun, apabila
stress mengancam perasaan, kemampuan, dan harga diri kita, reaksi kita
cenderung pada orientasi pembelaan ego (ego defence-oriented). Penyesuaian
yang berorientasi pada tugas disebut adaptasi dan yang berorientasi pada
pembelaan ego disebut “mekanisme pertahanan diri atau MPE = Mekanisme
Pertahanan/Pembelaan Ego ( Ego defence mechanism)”.
BAB II
PEMBAHASAN
STRES DAN ADAPTASI
A. STRES
Dewasa ini perubahan
tata nilai kehidupan (perubahan psikososial) berjalan begitu cepat karena
pengaruh globalisasi, modernisasi, informasi, industrialisasi, serta ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola hidup, moral,
dan etika. Beberapa contoh perubahan pola hidup, misalnya pola hidup social
religius berubah individualistis, materialistis, dan sekuler; pola hidup
produktif ke pola hidup konsumtif dan mewah; dan ambisi karier yang menganut
asas moral dan etika hukum ke cara KKN.
Perubahan
psikososial dapat merupakan tekanan mental ( stressor psikososial ) sehingga
bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan dan berusaha
beradaptasi untuk menanggulanginya. Stresor psikososial, seperti perceraian
karena tidak diamalkannya kehidupan religious dalam rumah tangga, masalah orang
tua dengan
banyaknya kenakalan remaja, dll.
1. Pengertian
Stres
a. “Stres
adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental
atau beban kehidupan)” ( Dadang Hawari, 2001).
b. “Stres
adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam; yang menimbulkan suatu
ketegangan dalam diri seseorang “ (Soeharto Heerdjan, 1987).
c. Secara
umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan
tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”.
d. “Stres
adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu
yang mengganggu keseimbangan kita” ( Maramis, 1999).
e. Menurut
Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) bahwa
yang dimaksud “Stres adalah ganguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh
perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun
penampilan individu di dalam lingkungan tersebut”.
2. Penggolongan
Stres
Apabila ditinjau dari penyebab
stress, menurut Sri Kusmiati Desminiarti (1990 ), dapat digolongkan sebagai
berikut.
a. Stres
fisik, disebabkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah,
suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
b. Stres
kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone,
atau gas.
c. Stres mikrobiologik,
disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang menimbulkan penyakit.
d. Stres
fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur , fungsi jaringan, organ atau
sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
e. Stres
proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan
perkembangan pada masa bayi hingga tua.
f. Stres
psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, social,
budaya, atau keagamaan.
Adapun menurut
Brench Grand (2000), stress ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2
macam, yaitu :
a. Penyebab
makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian,
perceraian, pensiun, luka batin, dan kebangkrutan.
b. Penyebab
mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah
tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri.
3. Faktor
Yang Mempengaruhi Stres
a. Faktor
biologis : Herediter,
konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik, dan neurohormonal.
b. Faktor
psikoedukatif/sosio cultural : Perkembangan kepribadian,
pengalaman, dan kondisi lain yang mempengaruhi.
4. Sumber
Stres Psikologis
Menurut Maramis (1999), ada
empat sumber atau penyebab stress psikologis, yaitu :
a. Frustasi :
Timbul akibat
kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang, misalnya apabila ada
perawat Puskesmas lulusan SPK bercita-cita ingin mengikuti D3 Akper program
khusus puskesmas, tetapi tidak diizinkan oleh istri/suami, tidak punya biaya,
dan sebagainya.
Frustasi ada yang
bersifat intrinsic (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik
(kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi,
pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
b. Konflik :
Timbulnya karena
tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau
tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, atau
avoidance-avoidance conflict.
c. Tekanan :
Timbul sebagai
akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri
individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang
berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua menuntut anaknya agar di
sekolah selalu ranking satu atau istri menuntut uang belanja yang berlebihan
kepada suami.
d. Krisis :
Krisis yaitu
keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian
orang yang disayangi, kecelakaan, dan penyakit yang harus segera dioperasi.
Keadaan
stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik, dan
tekanan.
5. Tahapan
Stres
Menurut Dr. Robert
J. Van Amberg (1979), sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dadang Hawari (2001)
bahwa tahapan stress sebagai berikut :
a. Stres
tahap pertama (paling ringan), yaitu stress yang disertai perasaan nafsu
bekerja yang besar dan berlebihan , mampu meyelesaikan pekerjaan tanpa
memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam
b. Stres
tahap kedua, yaitu stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi tidak
segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah sesudah
makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort),
jantung berdebar, otot tengkuk, dan punggung tegang. Hal tersebut karena
cadangan tenaga tidak memadai
c. Stres
tahap ketiga, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi tidak
teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah
terjaga dan sulit hidup kembali (middle insomnia), bangun terlalu pagi dan
sulit tidur kembali (late insomnia), koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh
pingsan.
d. Stres
tahap keempat, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja
sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan ,
respon tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu, gangguan pola tidur, sering
menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta timbul ketakutan dan
kecemasan.
e. Stres
tahap kelima, yaitu tahapan stress yang ditandai dengan kelelahan fisik dan
mental (physical and psychological exhaustion), ketidakmampuan menyelesaikan
pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya
rasa takut dan cemas, bingung, dan panic.
f. Stres
tahap keenan (paling berat), yaitu tahapan stress dengan tanda-tanda, seperti
jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar, dingin, dan banyak keluar
keringat, loyo, serta pingsan atau collaps.
6. Reaksi
Tubuh Terhadap Stres
a. Rambut : Warna
rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi
kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum
waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
b. Mata :
Ketajaman mata
seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini
disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga
mempengaruhi fokus lensa mata.
c. Telinga :
Pendengaran
seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
d. Daya
piker : Kemampuan
bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan
seringkali mengeluh sakit kepala pusing.
e. Ekspresi
wajah : Wajah
seseorang yang stress nampak tegang, dahi berkerut, mimic nampak serius, tidak
santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tertawa dan kulit muka kedutan (tic
facialis).
f. Mulut :
Mulut dan bibir
terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain daripada itu pada
tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini
disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle
cramps) sehingga serasa “tercekik”.
g. Kulit :
Pada orang yang
mengalami stress, reaksi kulit bermacam-macam; pada kulit dari sebahagian tubuh
terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit
yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain daripada itu perubahan kulit
lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria
(biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne)
berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat
(basah).
h. Sistem
Pernafasan : Pernafasan
seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa
berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai
dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan berat
dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme
dan tidak atau kurang elastic sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus
mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu
timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada
saluran nafas paru-paru juga mengalami spasme.
i. Sistem
Kardiovaskuler : Sistem
jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya karena
stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation)
atau menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah
atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari
tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain
daripada itu sebahagian atau seluruh tubuh terasa “panas” (subfebril) atau
sebaliknya terasa “dingin”.
j. Sistem
Pencernaan : Orang
yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem pencernaannya.
Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini disebabkan
karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah kedokteran
disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag.
Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada usus,
sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau
sebaliknya sering diare.
k. Sistem
Perkemihan : Orang
yang sedang menderita stress faal perkemihan (air seni) dapat juga
terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil
lebih sering dari biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing manis (diabetes
mellitus).
l. Sistem
Otot dan tulang : Stres
dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang (musculoskeletal).
Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti
ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada
tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila
menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering mengenal gejala ini
sebagai keluhan ”pegal-linu”.
m. Sistem
Endokrin : Gangguan
pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stress adalah kadar
gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan yang
bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus); gangguan
hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak
teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
7. Cara
Mengendalikan Stres
a. Kenali
penyabab stress
Meskipun terdengar
mudah, namun tidak segampang itu untuk mengenali sumber stress. Apabila stress
baru saja terjadi, mungkin anda bisa segera mengenali penyebabnya. Namun pada
stress jangka panjang, penyebabnya mungkin sudah anda lupakan atau bertumpuk-tumpuk
dengan penyebab stress baru. Apabila sudah benar-benar mengenali penyabab
stress, berkonsentrasilah pada masalah tersebut. Apabila belum bisa dipecahkan
dengan segera, cobalah untuk setidaknya memperkecil dampaknya
b. Buatlah
perencanaan yang baik
Stres terjadi
karena perubahan. Jika Anda sudah merencanakanlah semua hal dengan baik, stres
tidak akan berakibat buruk. Perubahan seharusnya bisa dilakukan dengan
menyenangkan. Namun, tanpa perencanaan yang matang, perubahan bisa menjadi
malapetaka. Buatlah perencanaan yang baik untuk segala hal: bekerja,
bersenang-senang, menikmati saat istirahat di rumah, hingga merencanakan
keuangan dengan benar. Hidup Anda bisa menjadi sangat menyenangkan atau sangat
muram. Semuanya terserah Anda
c. Jagalah
kesehatan
Tubuh yang sehat
akan lebih mudah mengatasi stres. Makan dan berolahraga dengan teratur dan
jangan lupakan istirahat dengan cukup. Perbaiki kondisi kesehatan Anda.
Mengatur pola makan dan berolahraga dengan porsi yang tidak tepat, kadangkala
justru membuat tubuh Anda menjadi lemas. Lakukanlah dengan benar dan tidak
berlebihan.
d. Jagalah
perasaan anda
Berhentilah selalu
menjaga perasaan orang lain. Jika perasaan Anda tak dijaga, dampaknya juga akan
buruk untuk orang-orang di sekitar Anda. Tidak ada salahnya menolak hal-hal
yang tidak Anda sukai dan tunjukkanlah perasaan Anda pada orang lain.
Untungnya, perempuan seringkali lebih mudah menunjukkan perasaan ketimbang
seorang lelaki.
e. Mintalah
bantuan
Jika tingkat stres
sudah terlalu tinggi dan merusak kesehatan Anda, berkonsultasilah pada
orang-orang terdekat Anda atau pada konsultan ahli. Jangan biarkan diri Anda
menderita stres terlalu lama.
B. ADAPTASI
(MEKANISME PENYESUAIAN DIRI)
Ada beberapa
pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain :
1. W.A.Gerungan
(1996) menybutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan
keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan
(keinginan diri)”.
Mengubah diri
sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis), misalnya seorang
bidan desa harus dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai-nilai
yang dianut masyarakat desa tempat ia bertugas.
Sebaliknya, apabila
individu berusaha untuk mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri,
sifatnya adalah aktif (alloplastis), misalnya seorang bidan desa ingin mengubah
perilaku ibu-ibu di desa untuk meneteki bayi sesuai dengan manajemen laktasi.
2. Menurut
Soeharto Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang
tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan”.
Adaptasi merupakan
pertahanan yang di dapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari
pengalaman untuk mengatasi stress. Cara mengatasi stress dapat berupa membatasi
tempat terjadinya stress, mengurangi, atau menetralisasi pengaruhnya.
Adaptasi adalah
suatu cara penyesuaian yang berorientasi pada tugas (task oriented).
1. Tujuan
Adaptasi
a. Menghadapi
tuntutan keadaan secara sadar
b. Menghadapi
tuntutan keadaan secara realistic
c. Menghadapi
tuntutan keadaan secara objektif
d. Menghadapi
tuntutan keadaan secara rasional
Cara yang ditempuh dapat
bersifat terbuka maupun tertutup, antara lain :
a. Menghadapi
tuntutan secara frontal (terang-terangan).
b. Regresi
(menarik diri) atau tidak mau tahu sama sekali.
c. Kompromi
(kesepakatan).
Contoh :
Seorang mahasiswa gagal dalam
ujian akhir program, mungkin ia akan bekerja keras (terang-terangan), regresi
dengan keluar dari pendidikan, serta mungkin mau mengulang lagi dengan berusaha
semampunya (kompromi).
2. Jenis
Adaptasi
a. Adaptasi
Fisiologik, bisa terjadi secara local atau umum. Contoh :
- Seseorang
yang mampu mengatasi stress, tangannya tidak berkeringat dan tidak gemetar,
serta wajahnya tidak pucat.
- Seseorang yang mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan yang berat dan merasa mengalami gangguan
apa-apa pada organ tubuh.
b. Adaptasi
psikologis, bisa terjadi secara :
- Sadar
: Individu mencoba memecahkan/menyesuaikan diri dengan masalah
- Tidak sadar : Menggunakan
mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).
Apabila seseorang
mengalami hambatan atau kesulitan dalam beradaptasi, baik berupa tekanan,
perubahan, maupun ketegangan emosi dapat menimbulkan stress. Stres
bisa terjadi apabila tuntutan atau keinginan diri tidak
terpenuhi.
Bentuk-bentuk
mekanisme pertahanan ego yaitu sebagai berikut :
a. Represi
(melupakan isi kesadaran)
Yang paling dasar
di antara mekanisme pertahanan lainnya. suatu cara pertahanan untuk
menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam. represi
terjadi secara tidak disadari.
b. Denial (penyangkalan)
Memainkan peran
defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima
masalah atau aspek hidup yang menyulitkan.
c. Reaction
Formation (melakukan tindakan yang berlawanan)
Salah satu
pertahanan terhadap impuls yang mengancam adalah secara aktif mengekspresikan
impuls yang bertentangan dengan keinginan yang mengganggu, orang tidak usah
harus menghadapi anxietas yang muncul seandainya ia menemukan dimensi yang ini
(yang tidak dikehendaki) dari dirinya. individu mungkin menyembunyikan
kebencian dengan kepura-puraan cinta, atau menutupi kekejaman dengan keramahan
yang berlebihan.
d. Displacement
(pemindahan)
Salah satu
cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam
kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan
atasannya melampiaskan hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya
e. Rasionalisasi
Kadang-kadang
orang memproduksi alasan-alasan “baik” untuk menjelaskan egonya yang terhantam.
rasionalisasi membantu untuk membenarkan berbagai tingkah laku spesifik dan
membantu untuk melemahkan pukulan yang berkaitan dengan kekecewaaan. misalnya
bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka
memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang
mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia
tidak menghendaki posisi tersebut.
f. Sublimasi
Dari pandangan
freud, banyak kontribusi artistik yang besar merupakan hasil dari penyaluran
energi sosial atau agresif kedalam tingkah laku kreatif yang diterima secara
sosial dan bahkan dikagumi. misalnya impuls agresif dapat disalurkan menjadi
prestasi olahraga.
g. Regresi
(pemunduran)
Beberapa orang
kembali kepada bentuk tingkah laku yang sudah ditinggalkan. menghadapi stress
atau tantangan besar, individu mungkin sudah berusaha untuk menanggulangi
kecemasan dengan bertingkah laku tidak dewasa atau tak pantas.
h. Introyeksi
Mekanisme
introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang
lain. Contoh : seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara
orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus
penganiayaan anak. introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah
nilai-nilai positif dari orang-orang lain
BAB III
KESIMPULAN
Stres yang terjadi
pada setiap individu berbeda-beda tergantung pada masalah yang dihadapi dan
kemampuan menyelesaikan masalah tersebut atau biasa disebut dengan koping yang
digunakan. Jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu
tersebut akan senang, sedangkan jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan
dengan baik dapat menyebabkan individu tersebut marah-marah, frustasi hingga
depresi.
Adaptasi adalah
proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon
terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi
kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau
komunitas terhadap stress. Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis
memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang
serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. Suatu proses adaptif
terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan
keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk
mempertahankan fungsi yang optimal.
Daftar
Pustaka
Kusumawati,
Farida, Hartono, Yudi. 2012. Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika