RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HEMOROID (AMBEIEN)
Nama : Andhini Putri
Fakultas : Fakultas Ilmu Kesehatan
Prodi : Ilmu Keperawatan (2012-2013)
Mata
Kuliah : Pendidikan Kesehatan I
Kode
Mata Kuliah : 2 SKS
Sasaran : Mahasiswa/i FIKes Universitas Islam As-syafiiyah
Materi
Pokok : Hemoroid
(Ambeien)
Waktu : 20 menit
A.
Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti
perkuliahan ini selama 1 x 20 menit dengan tema
Hemoroid,
Mahasiswa/i diharapkan mampu dan kompeten dalam menjelas-
kan
materi Hemoroid dan diaplikasikan dalam lapangan secara benar dan
mandiri.
B.
Indikator
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Pengertian Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Etiologi Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Manifestasi Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Patofisiologi Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Komplikasi Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Pemeriksaan Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu menjelaskan Penatalaksanaan Hemoroid
·
Mahasiswa/i
diharapkan mampu mendemonstrasikan Pembuatan Obat Tradisional Hemoroid
C.
Materi Pembelajaran
·
Definisi Hemoroid
·
Etiologi Hemoroid
·
Manifestasi Klinis
Hemoroid
·
Patofisiologi
Hemoroid
·
Komplikasi Hemoroid
·
Pemerikasaan Hemoroid
·
Penatalaksanaan
Hemoroid
·
Pembuatan Obat
Tradisional Hemoroid
D.
Metode Pembelajaran
·
Metode Ceramah
·
Metode tanya jawab
·
Demonstrasi
·
Simulasi
E.
Media dan Alat Peraga
·
Laptop
·
Power Point
·
LCD
·
Leaflet
F.
Langkah Pembelajaran
1.
Pembuka
“Assalamualikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat siang Ibu
Siti Fatimah selaku dosen mata kuliah Pendidikan Kesehatan I dan selamat siang
teman-temanku tercinta.
Pada kesempatan hari
ini saya akan memberikan pendidikan kesehatan kepada teman-teman tentang
Hemoroid atau ambeien, yang akan saya sampaikan di lantai 7 kampus UIA dan waktunya kurang lebih 20 menit. Baiklah
saya akan memulainya sekarang.”
2.
Inti Kegiatan
Lampiran Materi
a.
Definisi
Hemoroid/ambeien
Hemoroid merupakan penyakit atau gangguan pada anus dimana
Sphinchter Ani atau bibir anus, mengalami pembengkakan yang kadang-kadang
disertai pendarahan. Hemoroid atau ambeien dikenal juga dengan nama penyakit
wasir, bentuk dari penyakit ambeien sekilas mirip dengan bisul yang berwarna
merah kebiruan.
Hemoroid adalah pelebaran vena di
dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik (
Sjamsuhidajat & Jong, 2004 ). Sementara pengertian menurut Smeltzer (2000)
adalah pelebaran pembuluh darah/ flexus vena.
Hemoroid biasanya dibagi dalam 2
jenis, hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Sesuai istilah yang digunakan,
maka hemoroid interna timbul di sebelah luar otot sphincher
ani dan hemoroid eksterna timbul di sebelah dalam sphincher.
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari
vena hemoroidalis. Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat
pada sekitar 35% penduduk baik pria maupun wanita yang berusia lebih dari 25
tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan
perasaan yang sangat tidak nyaman.
Kurang lebih 70 persen manusia
dewasa mempunyai wasir baik interna
maupun eksterna. Namun tidak semua penderita wasir ini memerlukan pengobatan, hanya
sebagian kecil saja yang memerlukan pertolongan medis, yakni mereka yang
mengeluhkan pendarahan, adanya tonjolan dan gatal-gatal. Penyebab wasir
sebenarnya sederhana, yakni saat susah buang air dipaksakan mengeluarkan
kotoran dikarenan kurang minum, kurang makan serat, kurang olah raga atau
banyak duduk dan mengangkat yang berat-berat.
Wasir umum diderita oleh umur 50,
sekitar separuh orang dewasa berhadapan dengan yang menimbulkan rasa gatal,
terbakar, pendarahan dan terasa menyakitkan. Dalam banyak kesempatan kondisi boleh
memerlukan hanya self-care (perawatan sendiri) dan lifestyle (gaya hidup)
berubah. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen
yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan
hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita,
hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang
berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan.
b.
Etiologi Hemoroid
Penyebab
hemoroid dapat dibagi dalam beberapa faktor resiko, yaitu:
·
Anatomik : vena daerah anorektal tidak mempunyai katup
dan pleksus hemoroidalis kurang mendapat sokongan dari otot dan fascia
sekitarnya.
·
U m u r : pada umur tua terjadi degenerasi dari
seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter menjadi tipis dan atonis.
·
Keturunan : dinding pembuluh darah lemah dan tipis
·
Pekerjaan : orang yang harus berdiri , duduk lama, atau
harus mengangkat barang berat mempunyai predisposisi untuk hemoroid.
·
Mekanis : semua keadaan yang menyebabkan
meningkatnya tekanan intra abdomen, misalnya penderita hipertrofi prostat,
konstipasi menahun dan sering mengejan pada waktu defekasi.
·
Endokrin : pada wanita hamil ada dilatasi vena
ekstremitas dan anus oleh karena ada sekresi hormone relaksin.
·
Fisiologi : bendungan pada peredaran darah portal,
misalnya pada penderita sirosis hepatis.
·
Radang : menyebabkan vitalitas jaringan di
daerah itu berkurang.
c.
Manifestasi Klinis
Hemoroid
Pasien
sering mengeluh menderita hemoroid atau “wasir” tanpa ada hubungannya dengan
gejala rektum atau anus yang khusus.
Nyeri
yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya
timbul pada hemoroid eksterna yang mengalami trombosis.
Perdarahan
umumnya merupakan tanda pertama dari hemoroid interna akibat trauma oleh feses
yang keras.
Darah
yang keluar berwarna merah segar dan tidak tercampur dengan feses, dapat hanya
berupa garis pada feses atau kertas pembersih sampai pada perdarahan yang
terlihat menetes atau mewarnai air toilet menjadi merah.
Hemoroid yang membesar secara perlahan-lahan
akhirnya dapat menonjol keluar menyebabkan prolaps.
Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi
pada waktu defekasi dan disusul reduksi spontan setelah defekasi.
Pada
stadium yang lebih lanjut, hemoroid interna ini perlu didorong kembali setelah
defekasi agar masuk kembali ke dalam anus.
Pada
akhirnya hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps menetap dan tidak bisa
didorong masuk lagi.
Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada
pakaian dalam merupakn ciri hemoroid yang mengalami prolaps menetap.
Iritasi
kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal yang dikenal sebagai pruritus anus
dan ini disebabkan oleh kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus.
Nyeri hanya timbul apabila
terdapat trombosis yang luas dengan udem dan radang.
d.
Patofisiologi
Hemoroid
Mekanisme
dasar yang menyebabkan hemoroid ialah:
Distensi vena awalnya
merupakan struktur yang normal pada
daerah anus, karena vena-vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat
membantu menahan beban, namun bila distensi terjadi terus menerus akan timbul
gangguan.
Salah
satu faktor predisposisi yang dapat menimbulkan distensi vena adalah
peningkatan tekanan intra abdominal. Kondisi ini menyebabkan peningkatan
tekanan vena porta dan tekanan vena sistemik, yang kemudian akan ditransmisi ke
daerah anorektal. Elevasi tekanan yang berulang-ulang akan mendorong vena
terpisah dari otot disekitarnya sehingga vena mengalami prolaps. Keadaan yang
dapat menyebabkan terjadinya elevasi yang berulang antara lain adalah obstipasi
/ konstipasi, kehamilan dan hipertensi portal. Hemorrhoid dapat menjadi
prolaps, berkembang menjadi trombus atau terjadi perdarahan. Hemoroid
timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena
hemoroidalis.
Menurut
letaknya hemoroid dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.
Hemoroid interna
Hemoroid interna
timbul diatas linea pectinata, berasal dari vena hemoroidalis superior dan
medial, terletak diatas garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa rektum.
Menurut
gejala-gejalanya hemoroid interna dibagi menjadi 4 derajat, seperti:
·
Derajat 1 : Perdarahan pasca defekasi dan pada anuskopi
terliha permulaan dari benjolan hemoroid.
·
Derajat 2 : Perdarahan atau tanpa perdarahan, keluarnya
benjolan pada saat defekasi, tetapi benjolan masih dapat kembali dengan
sendirinya.
·
Derajat 3 : Perdarahan atau tanpa perdarahan, keluar
benjolan atau prolaps pada saat atau sesudah defekasi yang tidak dapet masuk
sendiri herus didorong dengan jari.
·
Derajat 4 : Hemoroid yang terjepit dan sesudah reposisi
akan keluar lagi dan terjadi hemoroid inkarserata.
2.
Hemoroid eksterna
Hemoroid eksterna
timbul disebelah distal linea pectinata atau anorektal, merupakan pelebaran
benjolan vena hemoroidalis inferior, terletak dibawah garis anorektal dan
ditutupi oleh epitel squamous atau kulit dari mukosa anus.
e.
Komplikasi Hemoroid
1.
Terjadinya perdarahan
Pada derajat I
terjadi pendarahan dubur dengan warna darah merah segar yang menetes ataupun
memancar lewat lubang dubur.
2.
Terjadi anemia
Akibat banyaknya
darah yang keluar memalui anus menyebabkan anemia bagi penderita hemoroid yang
menghasilkan kelelahan dan kelemahan.
3.
Infeksi dan
peradangan
Jika terjadi lecet pada anus dikarenakan tekanan
vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang karena disana banyak kotoran
yang ada mengandung kuman.
f.
Pemeriksaan Hemoroid
1. Pemeriksaan Colok
Dubur
Pada
pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab
tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri.
Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps,
selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat
dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan
kemungkinan karsinoma rektum.
2. Pemeriksaan Anoskopi
Dengan
cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop
dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi.
Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat
diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat
sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita
diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau
prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak, besarnya dan
keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus
diperhatikan.
3. Pemeriksaan
proktosigmoidoskopi
Proktosigmoidoskopi
perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang
atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap adanya
darah samar.
g.
Penatalaksanaan
Hemoroid
1.
Terapi non bedah
a.
Terapi obat-obatan (medikamentosa) / diet
Kebanyakan
penderita hemoroid derajat 1 dan derajat 2 dapat ditolong dengan tindakan lokal
sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri atas
makanan berserat tinggi seperti sayur dan buah-buahan. Untuk melancarkan
defekasi diberi parafin liquidum atau laxadin. Istirahat baring untuk
mengurangi pembengkakan.
b.
Skleroterapi
Skleroterapi
adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam
minyak nabati atau aethoxysklerol 1-3 %
antara selaput lendir dan varises dengan harapan akan terjadi fibrosis dan
mengempisnya hemoroid interna didaerah itu.
c.
Ligasi dengan gelang karet
Hemoroid
yang mengalami prolaps dapat ditangani dengan ligasi gelang karet menurut
Barron. Dengan bantuan anoskop, mukosa di atas hemoroid yang menonjol dijepit
dan ditarik atau dihisap ke tabung ligator khusus. Gelang karet didorong dari
ligator dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis
tersebut. Pada satu kali terapi hanya diikat satu kompleks hemoroid, sedangkan
ligasi berikutnya dilakukan dalam jarak waktu 2 – 4 minggu.
d. Krioterapi atau
dibekukan dengan suhu yang rendah sekali
e.
Hemorroidal Arteri Ligation ( HAL )
Pada
terapi ini, arteri hemoroidalis diikat sehingga jaringan hemoroid tidak
mendapat aliran darah yang pada akhirnya mengakibatkan jaringan hemoroid
mengempis dan akhirnya nekrosis.
f.
Infra Red Coagulation ( IRC ) / Koagulasi Infra Merah
Dengan
sinar infra merah yang dihasilkan oleh alat yang
dinamakan photocuagulation, tonjolan hemoroid dikauter sehingga terjadi
nekrosis pada jaringan dan akhirnya fibrosis. Cara ini baik digunakan pada
hemoroid yang sedang mengalami perdarahan.
g.
Generator galvanis
Jaringan
hemoroid dirusak dengan arus listrik searah yang berasal dari baterai kimia.
Cara ini paling efektif digunakan pada hemoroid interna.
h.
Bipolar Coagulation / Diatermi bipolar
Pada
terapi dengan diatermi bipolar, selaput mukosa sekitar hemoroid dipanasi dengan
radiasi elektromagnetik berfrekuensi tinggi sampai akhirnya timbul kerusakan
jaringan. Cara ini efektif untuk hemoroid interna yang mengalami perdarahan.
2. Terapi bedah
Terapi bedah dipilih untuk
penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat
III dan IV. Ada tiga tindakan bedah yang tersedia saat ini, yaitu bedah konvensional
(menggunakan pisau dan gunting), bedah laser (sinar laser sebagai alat
pemotong) dan bedah stapler (menggunakan alat dengan prinsip kerja stapler).
a.
Bedah konvensional, ada 3 teknik operasi yang biasa digunakan
yaitu:
1.
Teknik Milligan – Morgan
Teknik
ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Biasanya tidak lebih
dari tiga kelompok hemoroid yang dibuang pada satu waktu. Sehingga lebih baik
mengambil terlalu sedikit daripada mengambil terlalu banyak jaringan.
2.
Teknik Whitehead
Teknik
operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler ini yaitu dengan mengupas
seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa dari submukosa dan mengadakan
reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan kontinuitas
mukosa kembali.
3.
Teknik Langenbeck
Pada
teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier dengan klem. Lakukan
jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut chromic no 2/0. Kemudian eksisi
jaringan diatas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah
klem diikat. Teknik ini lebih sering digunakan karena caranya mudah dan tidak
mengandung resiko pembentukan jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan
stenosis.
b.
Bedah laser
Saat
laser memotong pembuluh jaringan
terpatri sehingga tidak banyak mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan dengan
nyeri yang minimal. Serabut syaraf dan selubung syaraf menempel jadi satu,
seperti terpatri sehingga serabut syaraf tidak terbuka. Untuk hemoroidektomi,
dibutuhkan daya laser 12 – 14 watt. Setelah jaringan diangkat, luka bekas
operasi direndam cairan antiseptik. Dalam waktu 4 – 6 minggu, luka akan
mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya dengan rawat jalan.
c. Bedah stepler
Alat yang digunakan sesuai dengan
prinsip kerja stapler. Bentuk alat ini
seperti senter, terdiri dari lingkaran di depan dan pendorong di belakangnya.
Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid dengan mendorongnya ke atas
garis mukokutan dan mengembalikan jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya
semula karena jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB,
sehingga tidak perlu dibuang semua. Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan
ke posisi anatomis, tidak mengganggu fungsi anus, tidak ada anal discharge,
nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar bagian sensitif, tindakan
berlangsung cepat sekitar 20 – 45 menit, pasien pulih lebih cepat sehingga
rawat inap di rumah sakit semakin singkat.
h.
Pembuatan Obat
Tradisional Hemoroid
1.
Bawang putih
Tumbuk halus
bawang putih secukupnya lalu peras dan ambil airnya. Oleskan air perasan bawang
putih di sekitar dubur setiap hari.
2.
Lidah buaya
Ambil daging buah dari 1/2 daun lidah buaya
yang sudah dibersihkan dan dibuang durinya. Parut lalu tambahkan dengan 1/2
cangkir air masak dan 2 sdm madu. Aduk lalu saring. Minum ramuan 3 kali sehari
sampai sembuh. Untuk membantu proses pengobatan, oleskan lidah buaya yang sudah dijus
dan dicampur norit serta bubuk gambir secukupnya pada daerah anus yang
menderita ambeien.
3.
Pare
Cuci bersih
buah dan biji pare secukupnya lalu tumbuk halus hingga mendapat 1/2 mangkuk air
perasan. Campurkan 2 sdm minyak kelapa. Berendamlah dengan air panas pada
bagian anus Anda, lalu tempelkan ramuan dengan menggunakan kapas pada anus.
1.
Evaluasi
à Apakah
teman-teman masih ada yang belum mengerti tentang pembahasan hemoroid?
à Coba
teman-teman sebutkan dan jelaskan tentang derajat hemoroid!
2.
Kesimpulan
Hemoroid
adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan
keadaan patologik, hemoroid terbagi menjadi 2 yaitu hemoroid interna dan
eksterna. Hemoroid interna terbagi menjadi 4 derajat. Faktor resiko hemoroid
terjadi karena keturunan, anatomik, pekerjaan, umur, endoktrin, fisiologis, dan
radang. Komplikasi yang terjadi pada hemoroid adalah perdarahan.
Penatalaksanaan hemoroid dapat dilakukan dengan terapi bedah maupun non bedah.
Agar terhindar dari hemoroid sebaiknya kita harus menjaga pola makan yang
berserat dan hindari makanan pedas.
“Baiklah
teman-teman demikian Pendidikan Kesehatan tentang hemoroid yang bisa saya
sampaikan, semoga materi yang sudah saya jelaskan dapat bermanfaat bagi
teman-teman semua. Cukup sekian dan saya akhiri dengan Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh”
G.
Daftar Pustaka
Pierce
A. Grace. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Erlangga
Smeltzer,
Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.
Dunphy,
Thomas W. 1993. Pemeriksaan Fisik Bedah. Jakarta: Yayasan Exsentia
Medika.