Selasa, 03 Juni 2014

Keperawatan Jiwa 'Stress dan Adaptasi'

STRES DAN ADAPTASI
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia harus selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia yang selalu berubah-ubah. Manusia sebagaimana ia ada pada suatu ruang dan waktu, merupakan hasil interaksi antara jasmani, rohani, dan lingkungan. Ketiga unsure tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Dalam segala masalah, kita harus mempertimbangkan ketiganya sebagai suatu keseluruhan (holistic) sehingga manusia disebut makhluk somato-psiko-sosial.
Oleh karena itu, apabila terjadi gangguan pada jasmani, akan menimbulkan usaha penyesuaian secara fisik atau somatic. Demikian pula apabila terjadi gangguan pada unsure rohani, akan menimbulkan usaha penyesuaian secara psikologis. Usaha yang dilakukan organism untuk mengatasi stress agar terjadi keseimbangan  yang terus-menerus dalam batas tertentu dan tetap dapat mempertahankan hidup dinamakan homeostasis.
Sumber gangguan jasmani (somatic) maupun psikologis adalah stress. Apabila kita mampu mengatasi keadaan stress, perilaku kita cenderung berorientasi pada tugas (task oriented), yang intinya untuk menghadapi tuntutan keadaan. Namun, apabila stress mengancam perasaan, kemampuan, dan harga diri kita, reaksi kita cenderung pada orientasi pembelaan ego (ego defence-oriented). Penyesuaian yang berorientasi pada tugas disebut adaptasi dan yang berorientasi pada pembelaan ego disebut “mekanisme pertahanan diri atau MPE = Mekanisme Pertahanan/Pembelaan Ego ( Ego defence mechanism)”.


BAB II
PEMBAHASAN
STRES DAN ADAPTASI

A.      STRES
Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan (perubahan psikososial) berjalan begitu cepat karena pengaruh globalisasi, modernisasi, informasi, industrialisasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola hidup, moral, dan etika. Beberapa contoh perubahan pola hidup, misalnya pola hidup social religius berubah individualistis, materialistis, dan sekuler; pola hidup produktif ke pola hidup konsumtif dan mewah; dan ambisi karier yang menganut asas moral dan etika hukum ke cara KKN.
Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental ( stressor psikososial ) sehingga bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan dan berusaha beradaptasi untuk menanggulanginya. Stresor psikososial, seperti perceraian karena tidak diamalkannya kehidupan religious dalam rumah tangga, masalah orang tua dengan banyaknya kenakalan remaja, dll.
1.    Pengertian Stres         
a.      “Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” ( Dadang Hawari, 2001).
b.      “Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam; yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang “ (Soeharto Heerdjan, 1987).
c.      Secara umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”.
d.     “Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita” ( Maramis, 1999).
e.      Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh  Grant Brecht (2000) bahwa yang dimaksud “Stres adalah ganguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut”.


2.    Penggolongan Stres
Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati Desminiarti (1990 ), dapat digolongkan sebagai berikut.
a.       Stres fisik, disebabkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
b.      Stres kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone, atau gas.
c.       Stres mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang menimbulkan penyakit.
d.      Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur , fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
e.       Stres proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
f.       Stres psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, social, budaya, atau keagamaan.
Adapun menurut Brench Grand (2000), stress ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a.       Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian, pensiun, luka batin, dan kebangkrutan.
b.      Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri.
3.    Faktor Yang Mempengaruhi Stres     
a.       Faktor biologis : Herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik, dan neurohormonal.
b.      Faktor psikoedukatif/sosio cultural : Perkembangan kepribadian, pengalaman, dan kondisi lain yang mempengaruhi.
4.    Sumber Stres Psikologis
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress psikologis, yaitu :
a.      Frustasi : Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang, misalnya apabila ada perawat Puskesmas lulusan SPK bercita-cita ingin mengikuti D3 Akper program khusus puskesmas, tetapi tidak diizinkan oleh istri/suami, tidak punya biaya, dan sebagainya.
Frustasi ada yang bersifat intrinsic (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
b.      Konflik : Timbulnya karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, atau avoidance-avoidance conflict.
c.       Tekanan : Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua menuntut anaknya agar di sekolah selalu ranking satu atau istri menuntut uang belanja yang berlebihan kepada suami.
d.      Krisis : Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan, dan penyakit yang harus segera dioperasi.
Keadaan stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik, dan tekanan.
5.    Tahapan Stres
Menurut Dr. Robert J. Van Amberg (1979), sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dadang Hawari (2001) bahwa tahapan stress sebagai berikut :
a.       Stres tahap pertama (paling ringan), yaitu stress yang disertai perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan , mampu meyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam
b.      Stres tahap kedua, yaitu stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi tidak segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort), jantung berdebar, otot tengkuk, dan punggung tegang. Hal tersebut karena cadangan tenaga tidak memadai
c.       Stres tahap ketiga, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi tidak teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah terjaga dan sulit hidup kembali (middle insomnia), bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali (late insomnia), koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.
d.      Stres tahap keempat, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan , respon tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu, gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
e.       Stres tahap kelima, yaitu tahapan stress yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental (physical and psychological exhaustion), ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung, dan panic.
f.       Stres tahap keenan (paling berat), yaitu tahapan stress dengan tanda-tanda, seperti jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar, dingin, dan banyak keluar keringat, loyo, serta pingsan atau collaps.
6.    Reaksi Tubuh Terhadap Stres
a.       Rambut  : Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
b.      Mata : Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
c.       Telinga : Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
d.      Daya piker : Kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.
e.       Ekspresi wajah : Wajah seseorang yang stress nampak tegang, dahi berkerut, mimic nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tertawa dan kulit muka kedutan (tic facialis).
f.       Mulut : Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa “tercekik”.
g.      Kulit : Pada orang yang mengalami stress, reaksi kulit bermacam-macam; pada kulit dari sebahagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
h.   Sistem Pernafasan : Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastic sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paru-paru juga mengalami spasme.
i.        Sistem Kardiovaskuler : Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation) atau menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu sebahagian atau seluruh tubuh terasa “panas” (subfebril) atau sebaliknya terasa “dingin”.
j.        Sistem Pencernaan : Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering diare.
k.      Sistem Perkemihan : Orang yang sedang menderita stress  faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
l.       Sistem Otot dan tulang : Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang (musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering mengenal gejala ini sebagai keluhan ”pegal-linu”.
m.    Sistem Endokrin : Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stress adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus); gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
7.    Cara Mengendalikan Stres
a.       Kenali penyabab stress
Meskipun terdengar mudah, namun tidak segampang itu untuk mengenali sumber stress. Apabila stress baru saja terjadi, mungkin anda bisa segera mengenali penyebabnya. Namun pada stress jangka panjang, penyebabnya mungkin sudah anda lupakan atau bertumpuk-tumpuk dengan penyebab stress baru. Apabila sudah benar-benar mengenali penyabab stress, berkonsentrasilah pada masalah tersebut. Apabila belum bisa dipecahkan dengan segera, cobalah untuk setidaknya memperkecil dampaknya
b.      Buatlah perencanaan yang baik
Stres terjadi karena perubahan. Jika Anda sudah merencanakanlah semua hal dengan baik, stres tidak akan berakibat buruk. Perubahan seharusnya bisa dilakukan dengan menyenangkan. Namun, tanpa perencanaan yang matang, perubahan bisa menjadi malapetaka.  Buatlah perencanaan yang baik untuk segala hal: bekerja, bersenang-senang, menikmati saat istirahat di rumah, hingga merencanakan keuangan dengan benar. Hidup Anda bisa menjadi sangat menyenangkan atau sangat muram. Semuanya terserah Anda
c.       Jagalah kesehatan
Tubuh yang sehat akan lebih mudah mengatasi stres. Makan dan berolahraga dengan teratur dan jangan lupakan istirahat dengan cukup. Perbaiki kondisi kesehatan Anda. Mengatur pola makan dan berolahraga dengan porsi yang tidak tepat, kadangkala justru membuat tubuh Anda menjadi lemas. Lakukanlah dengan benar dan tidak berlebihan.
d.      Jagalah perasaan anda
Berhentilah selalu menjaga perasaan orang lain. Jika perasaan Anda tak dijaga, dampaknya juga akan buruk untuk orang-orang di sekitar Anda. Tidak ada salahnya menolak hal-hal yang tidak Anda sukai dan tunjukkanlah perasaan Anda pada orang lain. Untungnya, perempuan seringkali lebih mudah menunjukkan perasaan ketimbang seorang lelaki.
e.       Mintalah bantuan
Jika tingkat stres sudah terlalu tinggi dan merusak kesehatan Anda, berkonsultasilah pada orang-orang terdekat Anda atau pada konsultan ahli. Jangan biarkan diri Anda menderita stres terlalu lama.

B.       ADAPTASI (MEKANISME PENYESUAIAN DIRI)
Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain :
1.      W.A.Gerungan (1996) menybutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”.
Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis), misalnya seorang bidan desa harus dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai-nilai yang dianut masyarakat desa tempat ia bertugas.
Sebaliknya, apabila individu berusaha untuk mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri, sifatnya adalah aktif (alloplastis), misalnya seorang bidan desa ingin mengubah perilaku ibu-ibu di desa untuk meneteki bayi sesuai dengan manajemen laktasi.
2.      Menurut Soeharto Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan”.
Adaptasi merupakan pertahanan yang di dapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stress. Cara mengatasi stress dapat berupa membatasi tempat terjadinya stress, mengurangi, atau menetralisasi pengaruhnya.
Adaptasi adalah suatu cara penyesuaian yang berorientasi pada tugas (task oriented).
1.    Tujuan Adaptasi
a.       Menghadapi tuntutan keadaan secara sadar
b.      Menghadapi tuntutan keadaan secara realistic
c.       Menghadapi tuntutan keadaan secara objektif
d.      Menghadapi tuntutan keadaan secara rasional
Cara yang ditempuh dapat bersifat terbuka maupun tertutup, antara lain :
a.       Menghadapi tuntutan secara frontal (terang-terangan).
b.      Regresi (menarik diri) atau tidak mau tahu sama sekali.
c.       Kompromi (kesepakatan).
Contoh :
Seorang mahasiswa gagal dalam ujian akhir program, mungkin ia akan bekerja keras (terang-terangan), regresi dengan keluar dari pendidikan, serta mungkin mau mengulang lagi dengan berusaha semampunya (kompromi).

2.    Jenis Adaptasi
a.       Adaptasi Fisiologik, bisa terjadi secara local atau umum. Contoh :
- Seseorang yang mampu mengatasi stress, tangannya tidak berkeringat dan tidak gemetar, serta wajahnya tidak pucat.
- Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang berat dan merasa mengalami gangguan apa-apa pada organ tubuh.
b.      Adaptasi psikologis, bisa terjadi secara :
- Sadar : Individu mencoba memecahkan/menyesuaikan diri dengan masalah
- Tidak sadar : Menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).
Apabila seseorang mengalami hambatan atau kesulitan dalam beradaptasi, baik berupa tekanan, perubahan, maupun ketegangan emosi dapat menimbulkan stress. Stres bisa  terjadi apabila  tuntutan atau keinginan diri tidak terpenuhi.

Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan ego yaitu sebagai berikut :
a.       Represi (melupakan isi kesadaran)
Yang paling dasar di antara mekanisme pertahanan lainnya. suatu cara pertahanan untuk menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam. represi terjadi secara tidak disadari.
b.      Denial (penyangkalan)
Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan.
c.       Reaction Formation (melakukan tindakan yang berlawanan)
Salah satu pertahanan terhadap impuls yang mengancam adalah secara aktif mengekspresikan impuls yang bertentangan dengan keinginan yang mengganggu, orang tidak usah harus menghadapi anxietas yang muncul seandainya ia menemukan dimensi yang ini (yang tidak dikehendaki) dari dirinya. individu mungkin menyembunyikan kebencian dengan kepura-puraan cinta, atau menutupi kekejaman dengan keramahan yang berlebihan.
d.      Displacement (pemindahan)
Salah satu cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan atasannya melampiaskan hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya
e.       Rasionalisasi
Kadang-kadang orang memproduksi alasan-alasan “baik” untuk menjelaskan egonya yang terhantam. rasionalisasi membantu untuk membenarkan berbagai tingkah laku spesifik dan membantu untuk melemahkan pukulan yang berkaitan dengan kekecewaaan. misalnya bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut.

f.       Sublimasi
Dari pandangan freud, banyak kontribusi artistik yang besar merupakan hasil dari penyaluran energi sosial atau agresif kedalam tingkah laku kreatif yang diterima secara sosial dan bahkan dikagumi. misalnya impuls agresif dapat disalurkan menjadi prestasi olahraga.
g.      Regresi (pemunduran)
Beberapa orang kembali kepada bentuk tingkah laku yang sudah ditinggalkan. menghadapi stress atau tantangan besar, individu mungkin sudah berusaha untuk menanggulangi kecemasan dengan bertingkah laku tidak dewasa atau tak pantas.
h.      Introyeksi
Mekanisme introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. Contoh : seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak. introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah nilai-nilai positif dari orang-orang lain


                                                             BAB III
KESIMPULAN

Stres yang terjadi pada setiap individu berbeda-beda tergantung pada masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut atau biasa disebut dengan koping yang digunakan. Jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu tersebut akan senang, sedangkan jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat menyebabkan individu tersebut marah-marah, frustasi hingga depresi.
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress. Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal.


Daftar Pustaka

Kusumawati, Farida, Hartono, Yudi. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

Keperawatan Komunitas 'Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)'

Fakultas Ilmu Kesehatan
Prodi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam As-syafi’iyah
2014

Andhini Putri (2720110008)

PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR ( P2M)
BAB I
PENDAHULUAN

Di berbagai negara masalah penyakit menular dan kualitas lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan masih menjadi isu sentral yang ditangani oleh pemerintah bersama masyarakat sebagai bagian dari misi Peningkatan Kesejahteraan Rakyatnya. Faktor lingkungan dan perilaku masih menjadi risiko utama dalam penularan dan penyebaran penyakit menular, baik karena kualitas lingkungan, masalah sarana sanitasi dasar maupun akibat pencemaran lingkungan. Sehingga insidens dan prevalensi penyakit menular yang berbasis lingkungan di Indonesia relatif masih sangat tinggi.
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
Untuk mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan tersebut ditetapkanlah Visi Indonesia Sehat 2015 yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan dengan perilaku yang sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata diseluruh wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan tujuan tersebut diselenggarakan upaya pembangunan kesehatan yang berkesinambungan, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota maupun oleh masyarakat termasuk swasta.
Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyatakan bahwa ‘Kesehatan merupakan hak asasi setiap orang dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita – cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, maka tuntutan untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu dan optimal menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat’.
Perubahan Paradigma Kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan lebih diprioritaskan pada upaya pencegahan dan promosi dengan tanpa meninggalkan kegiatan kuratif dan rehabilitatif, telah mendorong upaya dari dinas kesehatan umumnya dan dalam bidang penyehatan lingkungan permukiman serta tempat – tempat umum dan industri pada khususnya untuk lebih menggali kemampuan dan kemauan masyarakat untuk dapat meningkatkan dan memecahkan permasalahan kesehatannya sendiri.
Keadaan kesehatan lingkungan di masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Mobilitas dan Peningkatan jumlah penduduk, penyediaan air bersih, Pemanfaatan Jamban, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah, penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, polusi udara,air dan tanah dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan Penyakit Menular.
Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat menggunakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes, RI 2004).
Salah satu fungsi puskesmas adalah memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas meliputi pelayanan pengobatan, upaya pencegahan, peningkatan kesehatan dan pemulihan kesehatan (Depkes RI, 2004).

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
Berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular, maka Dinas Kesehatan bertugas mengembangkan segala potensi yang ada untuk menjalin kemitraan dan kerja sama semua pihak yang terkait serta memfasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dalam pelaksanaan manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta mengupayakan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
Selain itu dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dan dengan menyesuaikan tugas pokok dan fungsi serta uraian kegiatan program P2M, maka strategi operasional yang dilakukan dalam penanggulangan pemberantasan penyakit menular  diantaranya melalui :
1.      Pemantapan kelembagaan unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dalam penanggulangan penyakit menular  dengan strategi DOTS;
2.      Peningkatan mutu pelayanan di semua unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta;
3.    Penggalangan kemitraan dengan organisasi profesi, lintas sektoral,  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), institusi pendidikan, dan lain-lain;
4.    Pemberdayaan masyarakat dalam rangka mendorong kemandiriannya untuk mengatasi masalah TBC;
5.     Penelitian dan pengembangan melalui penelitian lapangan atau kerja sama dengan institusi pendidikan, LSM, organisasi profesi dan lain-lain dalam upaya penanggulangan penyakit menular.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan program P2M di Dinas Kesehatan Propinsi adalah :
1.      Meningkatkan upaya penemuan penderita di RS;
2.      Meningkatkan peran PKD dalam penemuan tersangka penderita;
3.      Meningkatkan upaya penemuan penderita melalui pesantren;
4.      Meningkatkan penemuan penderita di tempat kerja;
5.      Meningkatkan peran Lapas dalam penemuan penderita; Meningkatkan peran serta PKK, Muhammadiyah/ Aisyiah/ Fatayat/ NU dan
6.      Meningkatkan petugas PTO dan pengelola Program TBC.

B.   Seksi Yang Terkait Dengan Program P2M
Salah satu misi program penanggulangan penyakit menular  dan merupakan tugas pokok dan fungsi pelaksana program P2M adalah meningkatkan kemitraan dan melakukan koordinasi lintas program maupun lintas sektor yang terkait dengan program P2M.
Seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular (Seksi P2M) adalah yang bertanggung jawab dan  mempunyai tugas menyediakan bahan rencana dan program kerja, pelaksanaan, pelayanan, fasilitasi teknis, pemantauan dan evaluasi, pelaporan bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Pemutusan Mata Rantai Penularan melalui Pemberantasan Vektor.10 Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular yang dilaksanakan oleh seksi P2M meliputi beberapa program yaitu program HIV/ AIDS, TBC, Malaria, Demam Berdarah Dengue (DBD), Kusta, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Diare, dan Kecacingan (filariasis).
Pada struktur organisasi Dinas Kesehatan, lintas program yang terkait dengan program P2M adalah :
Seksi Penyehatan Lingkungan (PL)
-        Seksi Upaya Kesehatan Khusus dan Penunjang Medik (UKK)
-        Seksi Upaya Kesehatan Rujukan (UKR)
-        Seksi Pengembangan Promosi Kesehatan (Promkes)
-        Seksi Pengembangan Kemitraan dan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM), dan
-        Seksi Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi (K3I).
Selain itu program P2M juga terkait dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan.
Berikut Uraian Tugas dan Rincian Kegiatan Program P2M seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
a.       Uraian Tugas :
-        Menyediakan bahan rencana dan program Kerja bidang P2M
-        Melaksanakan Koordinasi pelaksanaan dan pelayanan bidang P2M
-        Melaksanakan fasilitasi teknis bidang P2M
-        Melaksanakan pemantauan dan evaluasi bidang P2M
-        Menyediakan bahan pelaporan bidang P2M
b.      Rincian Kegiatan :
-        Menghimpun, mengolah dan menganalisa data program salah satu jenis penyakit menular dari Kabupaten/ Kota, RS, dan BP4
-        Menghimpun, mengolah dan menganalisa serta merencanakan kebutuhan Obat-obatan, Membuat perencanaan kegiatan program tahunan
-        Menyiapakan bahan rencana renstra program P2M
-        Melakukan koordinasi dengan Labkesda/ Lintas program/ Lintas sektor/ LSM yang terkait dengan program P2M
-        Menyelenggarakan pertemuan dengan lintas program / Lintas Sektor dan LSM untuk mendukung program P2M
-        Melaksanakan fasilitasi teknis program P2M ke puskesmas, kabupaten/ kota, BP4 dan RS.
-        Monitoring & evaluasi (monev) pelaksanaan program P2M di daerah
-        Menyelenggarakan pertemuan monev dengan kabupaten/ kota
-        Monev hasil pertemuan dengan lintas sektor/ lintas program
-        Melaksanakan kajian pencapaian program P2M
-        Membuat laporan kegiatan program

C.   Epidemiologi
Adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan

D.   Surveilans Epidemiologi
 Merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta faktor determinannya. Penyakit dapat dilihat dari perubahan sifat penyakit atau perubahan jumlah orang yang menderita sakit. Sakit dapat berarti kondisi tanpa gejala tetapi telah terpapar oleh kuman atau agen lain, misalnya orang terpapar HIV, terpapar logam berat, radiasi dsb. Sementara masalah kesehatan adalah masalah yang berhubungan dengan program kesehatan lain, misalnya Kesehatan Ibu dan Anak, status gizi, dsb. Faktor determinan adalah kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah kesehatan.
Merupakan kegiatannya yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus. Sistematis melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu, sementara terus menerus menunjukkan bahwa kegiatan surveilans epidemiologi dilakukan setiap saat sehingga program atau unit yang mendapat dukungan surveilans epidemiologi mendapat informasi epidemiologi secara terus menerus juga.

Kegunaan Surveilans Epidemiologi
Pada awalnya surveilans epidemiologi banyak dimanfaatkan pada upaya pemberantasan penyakit menular, tetapi pada saat ini surveilans mutlak diperlukan pada setiap upaya kesehatan masyarakat, baik upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, maupun terhadap upaya kesehatan lainnya.
Untuk mengukur kinerja upaya pelayanan pengobatan juga membutuhkan dukungan surveilans epidemiologi.
Pada umumnya surveilans epidemiologi menghasilkan informasi epidemiologi yang akan dimanfaatkan dalam :
1. Merumuskan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan evaluasi program pemberantasan penyakit serta program peningkatan derajat kesehatan masyarakat, baik pada upaya pemberantasan penyakit menular, penyakit tidak menular, kesehatan lingkungan, perilaku kesehatan dan program kesehatan lainnya.
2. Melaksanakan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit dan keracunan serta bencana.
3. Merencanakan studi epidemiologi, penelitian dan pengembangan program Surveilans epidemiologi juga dimanfaatkan di rumah sakit, misalnya surveilans epidemiologi infeksi nosokomial, perencanaan di rumah sakit dsb.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan surveilans epidemiologi dapat diarahkan pada tujuan-tujuan yang lebih khusus, antara lain :
1.      Untuk menentukan kelompok atau golongan populasi yang mempunyai resiko terbesar untuk terserang penyakit, baik berdasarkan umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain–lain
2.      Untuk menentukan jenis dari agent (penyebab) penyakit dan karakteristiknya
3.      Untuk menentukan reservoir dari infeksi
4. Untuk memastikan keadaan–keadaan yang menyebabkan bisa  berlangsungnya transmisi penyakit.
5.   Untuk mencatat kejadian penyakit secara keseluruhan
6. Memastikan sifat dasar dari wabah tersebut, sumber dan cara  penularannya, distribusinya, dsb.

Program Pencegahan Penyakit Menular dilaksanakan melalui :
1.    Pelayanan imunisasi bagi Bayi
2.    Pelayanan imunisasi bagi anak sekolah
3.    Pelayanan imunisasi bagi ibu hamil
4.     Pelayanan
Program Pemberantasan Penyakit Menular Langsung dilaksanakan melalui:
1.    Pemberantasan penyakit TB Paru
2.    Pemberantasan penyakit Kusta
3.    Pemberantasan penyakit ISPA
4.    Pemberantasan penyakit HIV/AIDS
5.    Pemberantasan penyakit diare
6.    Pemberantasan penyakit
Program Pemberantasan Penyakit Menular Bersumber Dari Binatang dilaksanakan melalui :
1.    Pemberantasan penyakit malaria
2.    Pemberantasan penyakit Arbovirosis
3.    Pemberantasan penyakit Filariasis.

Program   Pengamatan   Penyakit   Menular    dilaksanakan melalui penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB :
1.    Program Upaya Kesehatan Ibu dan Anak  serta KB  dilaksanakan melalui Pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir
2.    Pelayanan kesehatan Bayi dan Anak Pra Sekolah
3.    Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja
4.    Pelayanan Kesehatan Usia Subur
5.    Pelacakan kasus BBLR di Kampung-Kampung

Program Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan :
1.    Pemantauan pertumbuhan Balita
2.    Pemberian suplemen gizi
3.    Pelayanan gizi buruk
4.    Swiping vitamin A
5.    Swiping kualitas garam beryodium
6.    Perawatan/pengobatan balita gizi buruk
7.    Pemberian makanan tambahan ( PMT)
8.    Pemantauan status gizi lebih .

Program Upaya Kesehatan Lingkungan dilaksanakan melalui kegiatan :
1.    Lingkungan fisik
2.    Pelayanan Hygiene sanitasi di  tempat-tempat umum
3.    Pengambilan dan pemeriksaan sampel air
4.    Perbaikan kualitas air

Pemberantasan Vector dilaksanakan melalui kegiatan :
1.    Penyemprotan rumah/bangunan
2.    Penyemprotan rumah/malaria.

Program Upaya Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut dilaksanakan melalui kegiatan Pemantauan pelaksanaan Pos Bindu.

Program Pengawasan Makanan dan Minuman dilaksanakan melalui kegiatan :
1.    Pendataan Industri rumah tangga pangan
2.    Audit dan sertifikasi IRT
3.    Pengambilan dan pengiriman sampel makanan
4.    Sweeping dan Pemusnahan makanan dan minuman
5.    Penyuluhan keamanan pangan
6.    Surveilance keracunan pangan.

Pengawasan Obat-Obatan dilaksanakan melalui kegiatan :
1.    Pendataan sarana pengobatan  dan  pendistribusian  obat-obatan
2.    Pemeriksaan peredaran obat  keras
3.    Pengawasan distribusi kosmetik dan salon kecantikan
4.    Pengawasan obat-obatan interen
5.    Pengawasan dan pembinaan pengobatan tradisional.




BAB III
KONSEP PENCEGAHAN

          Leavel and Clark dalam buku yang berjudul: Preventive Medicine for the   Doctor in his Community, menyatakan ada 2 fase dalam proses pencegahan penyakit yaitu:
- Fase sebelum sakit = prae patogenesis phase yaitu : PRIMARY PREVENTION
- Fase selama proses sakit = patogenesis phase yaitu : SECONDARY PREVENTION dan TERTIARY PREVENTION
Kedua fase diatas merupakan fase yang yang terdapat dalam riwayat alamiah penyakit. Riwayat alamiah penyakit adalah perkembangan penyakit itu tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara alamiah, fase-fase tersebut adalah :
1.    Prepatogenesis
Tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamudengan bibit penyakit,tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh manusia,dalam arti bibit penyakit berada diluar tubuh manusia dan belum massuk ke dalam tubuh.pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-tanda penyakit dan daya tahan tubuh penjamu masih kuat dan dapat menolak penyakit.keadaan ini disebut sehat.
2.    Tahap Inkubasi (sudah masuk patogenesis)
Pada tahap ini bibit penyakit masuk ke tubuh penjamu,tetapi gejala-gejala penyakit belum nampak.tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda.
3.    Tahap Penyakit Dini
Tahap ini mulai dihitung dari munculnya gejala-gejala penyakit.pada tahap ini penjamu sudah jatuh sakit tetapi masih ringan dan masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari.bila penyakit segera diobati,mungkin bisa sembuh,tetapi jika tidak bisa bertambah parah.hal ini tergantung daya tahan tubuh manusia itu sendiri,seperti gizi,istirahat dan perawatan yang baik di rumah.


4.  Tahap Penyakit Lanjut
Bila penyait penjamu bertambah parah, karena tidak diobati  atau tidak memperhatikan anjuran-anjuran yang diberikan pada penyakit dini maka penyakit masuk pada tahap lanjut. Penjamu terlihat tak berdaya dan tak sanggup lagi melakukan aktivitas. Ppada tahap ini penjamu memerlukan perawatan dan pengobatan intensif.
5.    Tahap penyakit akhir
Tahap akhir dibagi menjadi 5 keadaan:
a.sembuh sempurna yaitu bentuk dan fungsi tubuh penjamu kembali berfungsi seperti keadaan sebelumnya
b. sembuh tapi cacat:penyakit penjamu berakhir/bebas dari penyakit,tapi kesembuhannya tak sempurna,karena terjadi cacat (fisik,mental maupun sosial) dan sangat tergantung dari serangan penyakit terhadap organ-organ tubuh penjamu
c.carier : gejala penyakit tak tampak lagi,tetapi dalam tubuh penjamu masih terdapat bibit penyakit. yang pada suatu saat bila daya tahan tubuh penjamu menurun akan dapat kambuh kembali.keadaan ini tak hanya membahayakan penjamu sendiri, tetapi dapat berbahaya terhadap orang lain/masyarakat,karena dapat menjadi sumber penularan penyakit.
d.kronis : pada tahap ini gejala-gejala penyakit tidak berubah,pada keadaan ini penjamu masih tetap berada dalam keadaan sakit.

TINGKATAN PENCEGAHAN PENYAKIT
·         Upaya pencegahan dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit atau dengan kata lain sesuai dengan riwayat alamiah penyakit tersebut.
·         Ada 3 tingkat utama pencegahan :
1.  Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
2. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
3.  Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan 1  pada tahap prepatogenesis dari riwayat alamiah penyakit. Tingkat pencegahan 2 dan 3 pada tahap patogenesis penyakit .
1. Pencegahan  tingkat pertama (Primer prevention)
Adalah Upaya pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit belum mulai (pd periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses penyakit
Tujuan: mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya
Upaya yang dilakukan adalah untuk memutus mata rantai infeksi “agent – host - environment” Terdiri dari:
a. Health promotion (promosi kesehatan)
b. Specific protection (perlindungan khusus)
Kegiatan yang dilakukan melalui upaya tersebut adalah :
A.    Health promotion (promosi kesehatan)
Pendidikan kesehatan, penyuluhan
Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan
Penyediaan perumahan yg sehat
Rekreasi yg cukup
Pekerjaan yg sesuai
Konseling perkawinan
Genetika
Pemeriksaan kesehatan berkala
B.    Specific protection (perlindungan khusus )
    1. Imunisasi
    2. Kebersihan perorangan
    3. Sanitasi lingkungan
    4. Perlindungan thdp kecelakaan akibat kerja
    5. Penggunaan gizi tertentu
    6. Perlindungan terhadap zat yang dapat menimbulkan kanker
    7. Menghindari zat-zat alergenik
2.     Pencegahan tingkat kedua( Sekunder prevention)
Adalah Upaya pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogenesis awal) dengan tujuan proses penyakit tidak berlanjut
Tujuan: menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi. Terdiri dari :
          A. deteksi dini 
          B. pemberian pengobatan (yang tepat)
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya terebut adalah
               Deteksi  dini
§  Penemuan kasus (individu atau masal)
§   Skrining
§   Pemeriksaan khusus dengan tujuan
§    Menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut
§  Mencegah penyebaran penyakit menular
§  Mencegah komplikasi dan akibat lanjutan
§  Memperpendek masa ketidakmampuan
               Pemberian pengobatan
                        ›      Pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit
                        ›      mencegah komplikasi dan sekuele yg lebih parah
     ›      Penyediaan fasilitas khusus untuk membatasi ketidakmampuan dan mencegah kematian
Contoh
- PMS à kultur rutin bakteriologis utk infeksi asimtomatis pd kelompok resti
- Sifilis à tes serologis utk infeksi preklinis pd kelompok risti
- DBD à pemeriksaaan rumple leed

3.     Pencegahan tingkat ketiga ( tertiary prevention)
Adalah Pencegahan yg dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir periode patogenesis) dengan tujuan untuk mencegah cacad dan mengembalikan penderita ke status sehat
Tujuan: menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. Terdiri dari:
               Disability limitation
               Rehabilitation
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut adalah :
               Disability limitation
- Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjutan agar tidak terjadi komplikasi.
-  Pencegahan terhadap komplikasi maupun cacat setelah sembuh.
- Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk pengobatan dan perawatan yang lebih intensif.
- Mengusahakan pengurangan beban beban non medis ( sosial ) pada penderita untuk memungkinkan meneruskan pengobatan dan perawatannya.
  Rehabilitasi
      Penempatan secara selektif
      Mempekerjakan sepenuh mungkin
      penyediaan fasilitas untuk pelatihan hingga fungsi tubuh dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
      Pendidikan pada masyarakat dan industriawan agar menggunakan mereka yang telah direhabilitasi
      Penyuluhan dan usaha usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh.
      Peningkatan terapi kerja untuk memungkinkan pengrmbangan kehidupan sosial setelah ia sembuh.
      Mengusahakan suatu perkampungan rehabilitasi sosial.
      Penyadaran masyarakat untuk menerima mereka dalam fase rehabilitasi.
      Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi
Contoh
Fraktura & cedera à memasang rel pegangan tangan (handrails) di rumah orang yg mudah jatuh
Ulserasi kulit kronis à penyediaan matras khusus utk penyandang cacat berat 



PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR PADA PELAYANAN PRIMER/PUSKESMAS

Pencegahan penyakit menular di tingkat pelayanan primer/puskesmas dilakukan melalui program :
  1. P2 TBC
  2. P2 IMS HIV/AIDS
  3. P2 Kusta
  4. P2 ISPA
  5. P2 Malaria
  6. P2 Flu Burung
  7. P2 DBD
  8. P2 DIARE
  9. Pencegahan Penyakit / Imunisasi
  10. Surveilens Epidemiologi

BAB IV
PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap orang dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita – cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, maka tuntutan untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu dan optimal menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Epidemiologi Adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan
Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC, Infulenza dll), tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Types dll), Jarum suntik dan transfusi darah (HIV Aids, Hepatitis dll).

B.   SARAN
Program pemberantasan penyakit menular harus lebih dititik beratkan khususnya di daerah-daerah yang masih ketinggalan akan arus informasi, transportasi dan komunikasi. Selain  penambahan jumlah tenaga kesehatan serta fasilitas-fasilitas lainnya. Peran serta masyarakat akan lebih baik dalam mempercepat program pemberantasan penyakit menular terlaksana.

DAFTAR PUSTAKA

              Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Bimbingan Keterampilan Dalam Tatalaksana Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pada Anak. Jakarta.  
          Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1996).
              Departemen Kesehatan, Pedoman Penerapan DOTS di Rumah Sakit, 2006